Perekonomian DI Yogyakarta Mei 2024

 Perkembangan Ekonomi Makro Regional

Pertumbuhan ekonomi DIY pada awal tahun 2024 cenderung terus menguat. PDRB DIY triwulan I 2024 tumbuh sebesar 5,02% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 4,86% (yoy). Berdasarkan angka realisasi tersebut, pertumbuhan ekonomi DIY menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa. Lebih lanjut, ekonomi Nasional dan Jawa pada triwulan I 2024 tumbuh sebesar 5,11% (yoy) dan 4,84% (yoy).

Dari sisi permintaan, seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan komponen Konsumsi Rumah Tangga salah satunya didorong oleh peningkatan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi puasa dan lebaran. Kinerja investasi juga tumbuh positif baik investasi bangunan dari pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah DIY bagian selatan, maupun investasi non bangunan dari impor mesin dan realisasi Belanja Modal Aset Tidak Berwujud yang berasal dari APBD. Konsumsi Pemerintah tumbuh signifikan sejalan dengan realisasi Tunjangan Hari Raya (THR) pada triwulan I 2024, bergeser lebih cepat dari tahun sebelumnya di triwulan II, serta belanja bantuan sosial APBD provinsi maupun kabupaten/kota yang meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja ekspor dan impor DIY tumbuh membaik, sejalan dengan kinerja industri yang juga meningkat.

Dari sisi Lapangan Usaha (LU), mayoritas LU tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, seperti LU Industri pengolahan, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, LU KonstruksiPeriode puasa dan menjelang lebaran mendorong jumlah permintaan barang seperti bahan pokok dan pakaian oleh masyarakat mengalami kenaikan. Hal tersebut direspon dengan peningkatan produksi dari pelaku usaha. Jumlah kunjungan masyarakat luar DIY juga mengalami kenaikan seiring momen libur, cuti bersama, dan pelaksanaan kampanye yang berlangsung pada triwulan I 2024. Hal ini berdampak positif terhadap permintaan barang dan jasa di DIY. Lebih lanjut, pelaksanaan pembangunan PSN jalan tol Jogja-Solo-YIA dan jalan tol Jogja-Bawen, serta proyek daerah yang dilakukan utamanya dalam mempersiapkan pelaksanaan mudik Lebaran 2024, memberikan multiplier effect terhadap ekonomi DIY triwulan I 2024. Namun, pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh mundurnya masa panen raya tanaman pangan akibat El-Nino.


Keuangan Daerah

Kinerja keuangan daerah tetap solid pada triwulan I 2024. Realisasi pendapatan Pemda se-DIY pada triwulan I 2024 masih menunjukkan arah positif sebesar Rp3,8 triliun dengan pertumbuhan realisasi sebesar 7,00% (yoy). Meski demikian, pertumbuhan ini melambat dibandingkan triwulan I tahun 2023 yang tercatat sebesar 36,75% (yoy). Di sisi lain, belanja Pemda se-DIY terakselerasi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tercatat, realisasi belanja pada triwulan I 2024 tumbuh sebesar 13,75% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan I 2023 yang tumbuh sebesar 15,78% (yoy). Lebih lanjut, capaian realisasi penerimaan pembiayaan membaik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya seiring meningkatnya realisasi pada penerimaan pembiayaan. Sejalan dengan pertumbuhan belanja pemerintah daerah, realisasi belanja pemerintah pusat di DIY juga terakselerasi. Kinerja Belanja Negara mencapai Rp5,269 miliar atau tumbuh 20,27% (yoy) dipengaruhi oleh pembayaran THR tahun 2024 memberikan andil yang besar pada kinerja Belanja Pegawai.


Perkembangan Inflasi Daerah

Laju inflasi gabungan kota IHK di DIY (Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunungkidul) pada triwulan I 2024 terkendali dalam rentang target sasaran nasional. IHK gabungan kota di DIY pada triwulan I 2024 tercatat mengalami inflasi tahunan sebesar 2,95% (yoy), melandai dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yakni 6,10% (yoy) dan triwulan IV 2023 yang sebesar 3,17% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, realisasi inflasi triwulan I 2024 relatif lebih rendah dari realisasi gabungan 26 Kabupaten/Kota IHK di Jawa dan nasional yang secara berturut-turut tercatat 2,96% (yoy) dan 3,05% (yoy). Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan tekanan inflasi pada triwulan I 2024 terjadi pada hampir seluruh kelompok, kecuali kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Melandainya inflasi pada triwulan I 2024 di tengah adanya momen bulan Ramadhan dan HBKN Idulfitri salah satunya dipengaruhi oleh terjaganya ekspektasi masyarakat seiring masifnya upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY yang bersinergi dengan stakeholder di daerah untuk memastikan realisasi inflasi DIY yang stabil pada rentang sasaran.


Pembiayaan Daerah serta Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM

Kinerja bank umum di DIY pada triwulan I 2024 terjaga baik. Intermediasi perbankan membaik di tengah risiko kredit yang terkendali. Pada triwulan I 2024, pertumbuhan DPK tercatat sebesar 4,72% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,18% (yoy). Berdasarkan klasifikasi kepemilikannya, meningkatnya kinerja DPK didorong oleh peningkatan kinerja DPK di semua golongan nasabah, yaitu Korporasi, Perorangan, dan Pemerintah. Lebih lanjut, kredit perbankan di DIY pada triwulan I 2024 tumbuh meningkat dibandingkan triwulan IV 2023. Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi bank dan lokasi proyek masing-masing tercatat sebesar 10,14% (yoy) dan -0,32% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya masing-masing 8,53% (yoy) dan -5,57% (yoy). Kualitas pembiayaan perbankan yang tercermin dari Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga di tengah meningkatnya penyaluran kredit. Intermediasi perbankan membaik di tengah risiko kredit yang terkendali. Capaian ini tidak terlepas dari sinergi Bank Indonesia bersama K/L terkait melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta implementasi bauran kebijakan Bank Indonesia yang diarahkan untuk menjaga stabilitas (pro-stability) melalui kebijakan moneter dan mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth) melalui kebijakan makroprudensial serta didukung dengan kebijakan sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, serta ekonomi-keuangan inklusif dan hijau.


Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Kinerja Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) pada triwulan I 2024 juga berjalan dengan baik. Pada periode laporan, jumlah arus uang tunai yang keluar dan masuk di KPwBI DIY masing-masing tercatat sebesar Rp3,80 triliun dan Rp5,61 triliun sehingga mengalami net inflow sebesar Rp1,91 triliun. Sejalan dengan periode lebaran dan menjelang lebaran, KPwBI DIY telah melakukan layanan penukaran uang melalui kas keliling di pusat-pusat keramaian seperti pasar ramadhan, alun-alun kota, dan kantor pemerintahan. Di sisi lain, transaksi nontunai melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada triwulan I 2024 tercatat masing-masing sebesar Rp10,90 triliun dan Rp3,08 triliun, atau tumbuh -3,77% (yoy) dan -3,23% (yoy). Untuk BI RTGS, pertumbuhan tersebut mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 18,38% (yoy). Sedangkan pertumbuhan SKNBI pada triwulan I 2024, mengalami perbaikan dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi 9,53% (yoy). Transaksi masyarakat menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) juga tumbuh 128,28% (yoy) pada triwulan I 2024. Nilai transaksi ini terus meningkat sejak QRIS pertama kali diluncurkan.


Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) DIY pada Februari 2024 melambat. Secara sektoral, penyerapan tenaga kerja di DIY masih didominasi oleh LU utama yang menjadi penggerak perekonomian DIY, diantaranya LU Pertanian, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor, serta Industri Pengolahan. Lebih lanjut, persentase penduduk miskin DIY pada Maret 2023 menurun meski masih lebih tinggi dibandingkan capaian nasional. Persentase penduduk miskin DIY turun dari 11,34% dan 11,49% pada Maret dan September 2022 menjadi 11,04% pada Maret 2023. Secara umum, penurunan persentase penduduk miskin pada Maret 2023 terjadi di seluruh wilayah Indonesia termasuk DIY terutama didorong oleh pola konsumsi masyarakat DIY yang cenderung sederhana.


Prospek Perekonomian Daerah

Secara umum pada 2024, perekonomian DIY diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2023. Pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2024 diperkirakan berada di kisaran 4,8 – 5,6% (yoy). Permintaan domestik dan daya beli masyarakat yang terjaga serta penyelesaian PSN berupa investasi jalan tol diprakirakan masih menjadi motor pendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi DIY. Lebih lanjut, adanya pelaksanaan Pemilu dan Pilkada berpotensi mendorong kinerja konsumsi pemerintah. Selain itu, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan lebih baik sehingga diharapkan dapat mendorong kinerja ekspor DIY. Inflasi DIY pada tahun 2024 diperkirakan semakin melandai dalam rentang sasaran 2,5±1%. Melandainya inflasi terutama didorong oleh upaya TPID DIY untuk menjaga kestabilan inflasi melalui GNPIP dengan tajuk 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif). 

Komentar

Postingan Populer